Sabtu, 07 April 2012

makalah tentang lingkungan


DAFTAR ISI

Halaman Judul………………...………………………………….………………………….
Halaman Pengesahan………………………………….……………………………………..
Kata Pengantar………….……………………………………..…………. …………………
Daftar Isi ………………………..……………………………….…………..........................
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………….…….……………..
A.    Latar Belakang……………………………………………………………………….
B.     Permasalahan…………………………………………………………………………
C.     Tujuan………………………………………………………………………………..
BAB II PEMBAHASAN………………………………….…….…………………………..
A.    Pengertian Lingkugan…………………………………………………………………
B.     Teori-teori Belajar…………………………………………………………………….
BAB III PENUTUP …………………………………………….…….…………………….
·         Kesimpulan…………………………………….………………………………………….
·         Saran ……………………………………………….…….……………………………….
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah penulis mengucapkan kehadirat Allah swt. yang telah memberikan taufiq dan karunianya, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Dan tidak lupa pula shalawat dan salam kita sampaikan keharibaan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita dari alam jahiliyah kepada alam yang berilmu pengetahuan.
Dan tidak lupa kami berterima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Biologi Dasar yang telah mendukung kami dalam menyelesaikan makalah kami. Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Biologi Dasar yang menggantikan nilai kami dalam Ujian Akhir Semester nanti.
Terakhir, penulis secara terbuka mengakui berbagai informasi dalam makalah ini tidak luput dari kekeliruan dan kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran para pembaca sangat diharapkan.

Penyusun














BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tingkat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan tercermin dari kondisi lingkungan disekitar yang telah mengalami kerusakan alam dan pencemaran lingkungan. Untuk lebih meningkatkan rasa kesadaran, tanggung jawab serta kepedulian terhadap lingkungan, perlu ditanamkan pendidikan lingkungan sejak dini, yaitu melalui pendidikan berbudaya lingkungan di Sekolah Dasar. Gagasan pemerintah untuk menerapkan Pendidikan Lingkungan Hidup sebagai muatan lokal ditingkat SD hingga SMA merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Di Kodya Bandung beberapa sekolah dasar telah melaksanakan pembelajaran lingkungan. Tetapi belum diketahui sejauh mana pembelajaran ini berlangsung di sekolah dasar. Mengingat di sekolah dasar belum ada guru IPA yang khusus menguasai bidang lingkungan.
Oleh sebab itu telah dilakukan penelitian deskriptif yang terdiri dari 2 tahap yaitu analisa kurikulum dan, observasi lapangan untuk memperoleh data yang meliputi model pembelajaran, media pembelajaran, kendala pelaksanaan pembelajaran lingkungan hidup, dan fasilitas sekolah yang menunjang pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran lingkungan hidup belum terlaksana secara maksimal karena beberapa permasakahan yang dialami oleh para guru sekolah dasar. Agar pembelajaran lingkungan hidup dapat terlaksana secara maksimal, maka sebagai tindak lanjut dilakukan kegiatan sosialisasi dan lokakarya terhadap guru-guru sekolah dasar dalam meningkatkan proses pembelajaran lingkungan hidup serta pemberdayaan sumber daya manusia.
Sebagian siswa SLTP dan SMU yang menggemari petualangan melakukan kegiatan pendakian di berbagai gunung, kemudian menorehkan identitas mereka di pohon-pohon dengan menggunakan pisau, menyemprotkan cat (pilox) di bebatuan dan gua-gua; kemudian membawa pulang beberapa tangkai edelwise sebagai persembangan kepada teman-teman "dekat". Sebagian lagi memodifikasi knalpot sepeda motor yang dikendarai sehingga terdengar raungan yang memekakkan telinga dan mengepulkan asap yang memedihkan mata.
Berbagai perilaku siswa yang mengarah pada perusakan lingkungan semestinya dapat dikendalikan karena mereka telah memperoleh materi lingkungan, yang terintegrasikan ke dalam berbagai bidang studi. Di jenjang sekolah dasar, materi lingkungan terintegrasikan ke dalam mata pelajaran IPA dan IPS; demikian juga di jenjang SLTP, materi lingkungan terintegrasi ke dalam mata pelajaran IPA-Biologi, IPA-Fisika, IPA-Geografl, dan IPS-Ekonomi; sedangkan di jenjang SMU, materi lingkungan terintegrasi ke dalam mata pelajaran Biologi dan Sosiologi.
Secara hakikat, hasil sebuah pembelajaran adalah adanya perubahan perilaku. Berbagai fakta menunjukkan, berbagai perilaku siswa yang mengarah pada perusakan lingkungan masih mudah ditemukan. Dengan kata lain, kesadaran lingkungan siswa masih perlu ditingkatkan.

B.     Permasalahan
Persoalan mendesak adalah bagaimana meningkatkan kesadaran siswa terhadap lingkungan. Sehingga memunculkan pertanyaan perlukah pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa?
C.    Tujuan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa untuk memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran yang menyenangkan dengan menggunakan siswa sebagai subjek yang mampu mengembangkan diri sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Selain itu bagi penulis sendiri bisa mengetahui tingkat keberhasilan dari pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah sebagai media pembelajaran sehingga memudahkan peneliti dalam penyapaian materi terutama pada materi ekosistem.
Sedangkan bagi guru dapat meningkatkan kecakapan dalam menentukan media pembelajaran yang sesuai dengan materi, situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Selain itu mendekatkan anak dengan lingkungan sekitar sekolah, sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan dan pada akhirnya dapat menumbuhkan kesadaran akan kebesaran dan Maha Sempurnanya Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Lingkugan
Dalam pengertian yang luas belajar adalah proses perubahan seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu. Misalnya seseorang yang tidak tahu akan adanya konsep tentang ekosistem maka dengan belajar akan menjadi tahu dan paham apa yang dimaksud dengan konsep ekosistem. Menurut Oemar Hamalik (2004: 194). Belajar pada hakikatnya adalah suatu interaksi antara individu dan lingkungan. Menurut Slameto (2003:2) bahwa “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Proses belajar yang disertai dengan pembelajaran akan lebih efektif dan terarah, dari pada belajar dari pengalaman dalam kehidupan sosial. Agar pembelajaran lebih terarah proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen diantaranya yang satu sama lain saling berinteraksi, komponen tersebut adalah tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode, model dan strategi pembelajaran, media dan evaluasi, semuanya ini merupakan satu komponen agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kodisi yang dengan sengaja diciptakan oleh guru guna membelajarkan anak didiknya, dimana guru sebagai pengajar dan siswa sebagai anak didik. Kesatuan atau perpaduan kedua unsur ini maka lahirlah interaksi yang edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya. Pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Surya (2004: 7) “pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh sesuatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
B.     Teori-teori Belajar
Menurut Sukmadinata (2004 : 167) Teori- teori belajar bersumber dari teori atau aliran – aliran psikologi. Secara garis besar dikenal ada tiga rumpun besar psikologi yaitu : teori disiplin mental, behaviorisme, dan kognitif- gestalt - field.
1. Teori disiplin mental
Menurut rumpun psikologi ini individu memiliki kekuatan kemampuan, atau potensi-potensi tertentu. Belajar adalah pengembangan dari kekuatan-kekuatan kemampuan dan potensi-potensi tersebut. Bagaimana proses pengembangan kekuatan-kekuatan tersebut tiap aliran atau teori mengemukakan pandangan yang berbeda.


2. Teori behaviorisme
Rumpun teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati. Teori- teori dalam rumpun ini bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsur- unsur seperti halnya molekul- molekul.
3. Teori cognitif- gestalt- field
Rumpun ketiga adalah kognitif-gestalt–field. Kalau rumpun behaviorisme bersifat molekular (menekankan unsur- unsur), maka rumpun ini bersifat molar atau bersifat keseluruhan dan keterpaduan. Teori kognitif, dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif, teori ini berbeda dengan behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respons.
Namun untuk memulai semua itu perlulah kita ketahui terlebih dahulu bagaimana prinsip pengelolaan sistem, dimana terdapat perbedaan pendekatan paradigma top-down dan paradigma bottom-up dalam berbagai lapisan. Diantaranya pada sistem pendidikan pendekatan paradigma top-down berupa menentukan ketentuan untuk membudayakan peserta didik sedangkan paradigma bottom-up menjamin aturan pokok dan tersedianya sumber daya.
Pada sistem pengelolaan menurut paradigma top-down harus mampu menunjukkan petunjuk operasional sedangkan paradigma bottom-up hanya menyediakan informasi yang ada dan mengatur sumber daya yang diperlukan tanpa perlu menunjukan petunjuk operasionalnya. Pada paradigma top-down sistem belajar pembelajaran harus mampu melaksanakan petunjuk dan mengawasi agar segala sesuatunya sesuai dengan petunjuk yang ada. Namun menurut paradigma bottom-up sistem belajar pembelajaran harus bisa merancang terlebih dahulu pedoman yang akan dilaksanakan dan mengelola sumber belajar agar dapat menarik minat siswa sehingga pengalaman belajar siswa yaitu mampu memecahkan masalah belajar. Berbeda dengan paradigma top-down dimana pengalaman belajar siswa hanya merespon pelajaran.
Setelah memahami mengenai paradigma top-down dan bottom-up maka seorang guru dalam menggunakan media pendidikan yang efektif, harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan/ pengajaran. Pengetahuan tersebut menurut Oemar Hamalik (1985: 16), dalam Asnawir & Usman (2002: 18):
1. Media sebagai alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar mengajar,
2. Media berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan,
3. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar,
4. Hubungan antara metode mengajar dengan metode pendidikan,
5. Nilai dan manfaat media pendidikan,
6. Memilih dan menggunakan media pendidikan,
7. Mengetahui berbagai jenis alat dan teknik media pendidikan,
8. Mengetahui penggunaan media pendidikan dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan,
9 Melakukan usaha-usaha inovasi dalam media pendidikan. Karena itu media pendidikan sangat penting sekali untuk menungjang pencapaian tujuan dari pendidikian itu sendiri.
Lingkungan adalah sesuatu gejala alam yang ada disekitar kita, dimana terdapat interaksi antara faktor biotik (hidup) dan faktor abiotik (tak hidup). Lingkungan menyediakan rangsangan (stimulus) terhadap individu dan sebaliknya individu memberikan respons terhadap lingkungan. Dalam proses interaksi itu dapat terjadi perubahan pada diri individu berupa perubahan tingkah laku.Oemar Hamalik (2004 : 194) dalam teorinya “Kembali ke Alam” menunjukan betapa pentingnya pengaruh alam terhadap perkembangan peserta didik. Menurut Oemar Hamalik (2004: 195) Lingkungan (environment) sebagai dasar pengajaran adalah faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Lingkungan yang berada disekitar kita dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Lingkungan meliputi: Masyarakat disekeliling sekolah; Lingkungan fisik disekitar sekolah, Bahan-bahan yang tersisa atau tidak dipakai dan bahan-bahan bekas dan bila diolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber atau alat bantu dalam belajar; dan Peristiwa alam dan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.
Jadi media pembelajaran lingkungan adalah pemahaman terhadap gejala atau tingkah laku tertentu dari objek atau pengamatan ilimiah terhadap sesuatu yang ada di sekitar sebagai bahan pengajaran siswa sebelum dan sesudah menerima materi dari sekolah dengan membawa pengalaman dan penemuan dengan apa yang mereka temui di lingkungan mereka. Dengan adanya pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini guru berharap siswa akan lebih akrab dengan lingkungan sehingga menumbuhkan rasa cinta akan lingkungan sekitarnya. Langkah awal yang dapat dilakukan (Asnawir & Usman, 2002: 109):
1. Menanami halaman sekolah dengan tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga;
2. Membawa tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan kedalam kelas;
3. Mengusahakan mengoleksi rumput-rumputan dan daun-daunan (herbarium), serangga (insektarium), ikan dan binatang air (aquarium);
4. Menggunakan batu-batuan dan kerang-kerangan, semua ini dapat dijadikan sebagai sumber pelajaran.
Pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran ini lebih bermakna disebabkan para siswa dihadapkan langsung dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, dan kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan. Banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses belajar mengajar ( Sudjana & Rivai, 2002: 208):
1. Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi,
2. Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan langsung dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami,
3. Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih faktual sehingga kebenarannya lebih akurat,
4. Kegiatan belajar lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta,
5. Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti lingkungan social, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain, dan Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada dilingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk rasa cinta akan lingkungan.
Selain itu untuk memanfaatkan lingkungan sekitar harus memenuhi beberapa syarat tertentu diantaranya :
1. Harus sesuai dengan garis-garis besar program pengajaran,
2. Dapat menarik perhatian siswa,
3. Hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat,
4. Dapat mengembangkan keterampilan anak berinteraksi dengan lingkungan,
5. Berhubungan erat dengan lingkungan siswa, dan
6. Dapat mengembangkan pengalaman dan pengetahuan siswa.
Pada dasarnya pelaporan kegiatan hasil belajar merupakan kegiatan mengkomunikasikan dan menjelaskan hasil penilaian seorang guru terhadap perkembangan siswa. Kemudian informasi mengenai hasil penilaian proses dan hasil belajar serta hasil mengajar yaitu berupa penguasaan indikator yang telah ditetapkan, oleh peserta didik informasi hasil penilaian ini dapat digunakan sebagai sarana untuk memotivasi peserta didik dalam pencapaian pembelajaran, agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Bentuk laporan hasil penilaian proses dan hasil belajar meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor Haryati (2007 :115)
Menurut Sudjana (2002 : 45) dalam proses belajar-mengajar, tipe hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai siswa penting diketahui oleh guru, agar guru dapat merancang atau mendesain pengajaran secara tepat dan penuh arti. Setiap proses belajar-mengajar keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa, disamping diukur dari segi prosesnya. Artinya, seberapa jauh tipe hasil belajar yang dimiliki siswa. Tipe hasil belajar harus nampak dalam tujuan itulah yang akan dicapai oleh proses belajar-mengajar. Menurut Sudjana (2002 : 39) hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik, dan psikis.






BAB III
PENUTUP
·         Kesimpulan
Lingkungan merupakan salah satu tempat atau wahana untuk digunakan sebagai media pembelajaran dalam proses belajar mengajar, karena dapat menumbuhkan minat dan merangsang mereka untuk berbuat dan membuktikannya. Hal ini sangat baik dan cocok dilakukan dalam mata pelajaran biologi, karena pemahaman para siswa tentang biologi adalah ilmu hafalan dan tidak bermanfaat bagi kehidupan dan juga akibat dari pengalaman belajar yang bersifat verbalistis dan tidak pernah diajak belajar keluar kelas sedangkan dalam ilmu biologi harus sesuai dengan apa yang ada dalam alam ini karena, biologi didalam Sekolah Menengah Atas merupakan Mata pelajaran sains dimana siswanya dituntut untuk dapat memahami konsep biologi dan mengembangkan daya nalar untuk memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari.
Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berhasil dengan baik, perlu dilakukan langkah-langkah: perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Dalam langkah- langkah tersebut, guru dan siswa terlibat aktif sehingga kegiatan pemanfaatan lingkungan tersebut menjadi tanggung jawab bersama.

·         Saran
Makalah ini sangat jauh dari kesempurnan, maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk makalah ini yang tentunya sangat bermanfaat bagi penulis dalam menyempurnakan makalah ini.Semoga makalah ini bisa menjadi salah satu acuan dalam pembuatan makalah selanjutnya





DAFTAR PUSTAKA

Arikunto Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Asnawir dan Usman. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Press
http://begawanafif.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 24 Januari 2010.
M. Subana. dan Sudrajat.2005. Dasar-dasar penelitian ilmiah. Bandung: Pustaka Setia
Mimin Haryati. 2007. Model dan Teknik Penilaian Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.
Mohamad Surya. 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Oemar Hamalik. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Soemantri dan Muhidin. 2006. Aplikasi Statistika Dalam Penelitian. Bandung : CV Pustaka Setia.

Sudjana dan Rivai. 2002. Media Pengajaran. Bandung: sinar Baru Algensindo
Sudjana. 2002. Dasar- Dasar Proses Belajar Mangajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Sugiyono. 2004. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : ALFABETA
Sukmadinata, NS. 2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.
Surapranata Sumarna. 2004. Analisis, Validitas, Reabilitas, dan Interpretasi Hasil Tes Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: Rosda Karya.

makalah narkoba


DAFTAR ISI


Halaman Judul .............................................................................................................
Kata Pengantar.............................................................................................................
Daftar Isi......................................................................................................................
BAB I PENDAHLUAN..............................................................................................
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.    Tujuan Penelitian                                                                                           
D.    Manfaat Penelitian.............................................................................................
1.      BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... ….
A.    Pengertian Narkotika………………………………………………………………..                   
B.     Jenis-Jenis Narkotika Yang Sering Disalahgunakan………………………………..
C.     Golongan Narkotika                                                                           
D.    Penyalahgunaan Dan Ketergantungan………………………………………………
E.     Penyebab Penyalahgunaan Narkotika………………………………………………
F.      Gejala Klinis Penyalahgunaan Narkotika…………………………………………..
G.    Pengaruh Penyalahgunaan Narkotika………………………………………………
H.    Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika……………………………………
BAB III METODE PENELITIAN............................................................................. ….
1.      Hasil Angket………………………………………………………………….        
2.      Hasil Wawancara………………………………………………………………
BAB IV PEMBAHASAN………………………………………………………………..
A.    Pembahasan ……………………………………………………………………
BAB V PENUTUP……………………………………………………………………….
A. Kesimpulan…………………………………………………………………….
B. Saran……………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………….       


KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas perkenannya lah kami dapat menyelesaikan Karya Ilmiah yang membahas tentang “ NARKOBA ” ini.

Tak lupa kami ucapkan banyak terimakasih kepada guru mata pelajaran yang memberikan tugas ini, yang telah memberikan bimbingan selama ini. Juga kepada semua pihak yang terlibat dalam pengerjaan Karya Ilmiah ini, sehingga Karya Ilmiah ini dapat selesai.
Karya Ilmiah ini kami susun untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia, Karya Ilmiah ini kami susun dari berbagai sumber baik dari internet maupun dari buku-buku sumber.
Kami harap makalah ini dapat bermanfaat banyak bagi kami khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya. Selain itu kami harap makalah ini dapat memberikan tambahan wawasan pengetahuan bagi para pembaca.
Akhirnya, tak ada gading yang tak retak, Karya ilmiah ini tentu saja masih jauh dari sempurna, masih memiliki berbagai kekurangan dan / atau kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami harapkan.

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Usia remaja adalah usia dimana anak membutuhkan perhatian lebih dari orang tua. Sebab di usia seperti itu anak berusaha mencari identitas diri. Jiwa remaja penuh gejolak dan pemberontakan. Gejolak ingin mendapatkan pengakuan atas keberadaannya, ingin mendapatkan kepercayaan, ingin mendapatkan penghargaan, ingin berprestasi, ingin menunjukkan keberanian, dan ingin mendapatkan kebebasan dan kemandirian.
Kecenderungan anak melakukan penyalahgunaan narkotika tidak dapat dilepaskan dari peran dan tanggung jawab orang tua. Sekalipun lingkungan seperti keluarga, sekolah dan teman sebaya, mempunyai pengaruh yang besar bagi anak, tetapi apabila orang tua dapat melaksanakan peran dan tanggung jawabnya, maka pengaruh lingkungan tersebut dapat ditekan seminimal mungkin.
Di masa modern sekarang ini peredaran narkotika sudah tidak bisa ditolerir, tidak memandang lingkungan dan usia. Banyak anak-anak yang masih memerlukan bimbingan dalam proses peralihan menuju kedewasaan, terserang atau tergoda oleh narkotika. Walaupun telah diadakan penyuluhan-penyuluhan beberapa kali di sekolah-sekolah tapi narkotika tetap merasuki pikiran para pelajar yang masa depannya masih dipertanyakan. Masa depan yang seharusnya menjadi tujuan atau akhir dari perjuangan para pelajar dimasa-masa sekolah kini dipertanyakan statusnya. Jika narkotika terus berkembang dan menggoda para pelajar agar mengalihkan pandangannya pada narkotika maka para pelajar yang akan menjadi penerus bangsa akan kandas di tengah jalan.
Sekolah merupakan tempat yang tepat bagi para pelajar untuk melakukan berbagai kegiatan yang positif, mengembangkan bakat dan minatnya agar tidak terjemurus kepada penyalahgunaan narkotika. Akan tetapi, tentunya pelajar jauh lebih lama berada di keluarganya dibandingkan dengan berada di sekolah.Oleh sebab itu, orang tua jauh lebih berperan untuk menjaga, dan mengawasi anaknya agar tidak terjerumus kepada penyalahgunaan narkotika.
Generasi muda saat ini perlu memiliki kesadaran akan pentingnya manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya, serta kesadaran akan pentingnya pengembangan potensi setiap individu untuk membentuk Indonesia yang bermartabat, maju, dan bebas dari narkotika.
Dari permasalahan di atas, maka kami tertarik untuk membuat karya tulis yang berjudul “Pengaruh Narkotika terhadap Pergaulan Remaja Kota Makassar.”

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Seberapa jauh tingkat pengetahuan para remaja atau pelajar tentang narkotika?
2.      Apakah penyebab para remaja atau pelajar menggunakan narkotika?
3.      Apakah dampak penggunaan narkotika di kalangan remaja atau pelajar?

C.    TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui tingkat pengetahuan para remaja atau pelajar tentang narkotika.
2.      Untuk mengetahui penyebab para remaja atau pelajar menggunakan narkotika.
3.      Untuk mengetahui dampak penggunaan narkotika di kalangan remaja atau pelajar.

D.    MANFAAT PENELITIAN
1.    Manfaat Akademik
Memberikan pemahaman kepada para remaja tentang pengaruh narkotika terhadap pergaulan remaja.

2.    Manfaat Praktis
Sebagai bahan masukan kepada segenap pihak yang berminat untuk meneliti tentang pengaruh narkotika terhadap pergaulan remaja.


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.        NARKOTIKA

B.     Pengertian Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bunga tanaman baik sintesis maupun semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan perubahan kesadaran , hilangnya rasa, sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulakan ketergantungan serta kecanduan.

C.     Jenis-Jenis Narkotika Yang Sering Disalahgunakan
1)    Opioda yaitu nama segolongan zat alamiah, semisintetik maupun sintetik yang diambil dari bagian pohon POPPY, pertama kali ditemukan di Asia Kecil , digunakan untuk pengobatan oleh bangsa Mesir, kemudian akhirnya menyebar ke Yunani. Selain digunkan sebagai obat Opioda juga digunkan sebagai alat untuk menimbulkan rasa senang. Yang termasuk Opioda adalah:
 Opiat/Oipium
 Morfin
Heroin
Kodein
Opiat Sintetik
2)    Kokain merupakan zat yang sangat kuat berupa bubuk Kristal putih yang disuling dari daun Coca (Erythroxylan Coc) yang tumbuh di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Sedangkan Kokain freebase adalah kokain yang diproses untuk menghilangkan kemurnian dan campurannya sehingga dihisap berbentuk kepingan kecil (rocks/batu) sebesar kismis. Salah satu kokain yang popular adalah Crac.
3)    Kanabis/ganja berasal dari tanaman dengan nama Cannabis Satifa dan Cannabis Indica yaitu sejenis tanaman perdu yang biasanya digunakan sebagai obat relaksasi untuk mengatasi intoksidasi ringan. Seseorang yang baru saja menggunakan Kanabis sering kali memeperlihatkan tanda-tanda mabuk dengan mata merah dan bola mata membesar.
4)    Sedatif atau sedative-hipotonik merupakan zat yang dapat mengurangi berfungsinya sistem saraf pusat.
5)    Ekstasi dikenal dalam dunia pengobatan sebagai Methydioxy Methampetamin dengan nama populernya MDMA.Ekstasi obat sintesis yang dikembangkan oleh perusahaan ERNTS MERK di Jerman pada tahun 1914. Pada waktu itu Ekstasi digunakan untuk meningkatkan daya tahan prajurit di Amerika digunakan pengobatan pasien yang sudah parah.
6)    Shabu-shabu merupakan komoditas baru yang sedang laris. Zat ini mempunyai nama kimia Methamfetamine yang mempunyai kesamaan sifat dengan Ekstasi yang sama-sama tergolong dalam zat psikotropika stimulasia otak yang dapat menyebabkan ketergantungan.
Segementasi pasar dari shabu-shabu adalah para eksekutif , professional dan kaum selebritis. Zat ini menyebabkan lepasnya neurotransmitter dopamine dari ujung-ujung saraf ke bagian otak yang mengatur perasaan kenikmatan . Penghentian termasuk perasaan kesal, tertekan, tegang, gelisah, sulit berkonsentrasi, lapar, pusing, serta dapat menyebabkan kecanduan. Beberapa kasus menunjukkan dampak desturktif shabu-shabu yaitu menyebabkan orang menjadi ganas, agiatif serta meningkatkan kepercayaan diri yang tinggi berbuntut tingkah laku yang brutal.

D.    Golongan Narkotika
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Narkotika terdiri dari 3 golongan :
a.       Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja.
b.      Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
c.       Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Codein.

E.     Penyalahgunaan Dan Ketergantungan
Penyalahguanaan adalah penggunaan salah satu atau beberapa jenis narkotika secara berkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial.
Ketergantungan adalah keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah narkotika yang makin bertambah (toleransi), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus obat (withdrawal symptom).
F.      Penyebab Penyalahgunaan Narkotika
Penyebabnya sangatlah kompleks akibat interaksi berbagai faktor sebagai berikut.
a.       Faktor Individual
Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat. Ciri-ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan narkotika:
1)      Cenderung memberontak
2)      Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.
3)      Perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada
4)      Kurang percaya diri
5)      Mudah kecewa, agresif dan destruktif
6)      Murung, pemalu, pendiam
7)      Merasa bosan dan jenuh
8)      Keinginan untuk bersenang – senang yang berlebihan
9)      Keinginan untuk mencaoba yang sedang mode
10)  Identitas diri kabur
11)  Kemampuan komunikasi yang rendah
12)  Putus sekolah
13)  Kurang menghayati iman dan kepercayaan.
b.      Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat.
c.       Lingkungan Keluarga :
1)      Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
2)      Hubungan kurang harmonis
3)      Orang tua yang bercerai, kawin lagi
4)      Orang tua terlampau sibuk, acuh
5)      Orang tua otoriter
6)      Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya
7)      Kurangnya kehidupan beragama.
a.       Lingkungan Sekolah :
1)      Sekolah yang kurang disiplin
2)      Sekolah terletak dekat tempat hiburan
3)      Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif
4)      Adanya murid pengguna narkotika.
a.       Lingkungan Teman Sebaya :
1)      Berteman dengan penyalahguna
2)      Tekanan atau ancaman dari teman.
f.       Lingkungan Masyarakat / Sosial :
1)      Lemahnya penegak hokum
2)      Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.
Faktor – faktor tersebut diatas memang tidak selalu membuat seseorang kelak menjadi penyalahguna narkotika. Akan tetapi makin banyak factor-faktor diatas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahguna narkotika.

G.    Gejala Klinis Penyalahgunaan Narkotika
Para pengguna narkotika dapat diketahui karena ada beberapa gejala klinis yang dialami para pengguna. Gejala-gejala tersebut sebagai berikut.
a.       Perubahan Fisik :
1)      Pada saat menggunakan narkotika: jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif.
2)      Bila terjadi kelebihan dosis (Overdosis) : nafas sesak, denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, bahkan meninggal.
3)      Saat sedang ketagihan (Sakau) : mata merah, hidung berair, menguap terus, diare, rasa sakit seluruh tubuh, malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
4)      Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak perduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi keropos, bekas suntikan pada lengan.
b.  Perubahan sikap dan perilaku :
1)      Prestasi di sekolah menurun, tidak mengerjakan tugas sekolah, sering membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab.
2)      Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk di kelas atau tempat kerja.
3)      Sering berpergian sampai larut malam, terkadang tidak pulang tanpa ijin.
4)      Sering mengurung diri, berlama-lama di kamar mandi, menghindar bertemu dengan anggota keluarga yang lain.
5)      Sering mendapat telepon dan didatangi orang yang tidak dikenal oleh anggota keluarga yang lain.
6)      Sering berbohong, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tidak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau keluarga, mencuri, terlibat kekerasan dan sering berurusan dengan polisi.
7)      Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, pemarah, kasar, bermusuhan pencurigaan, tertutup dan penuh rahasia.
H.    Pengaruh Penyalahgunaan Narkotika
Narkotika dapat berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya. Pengaruh tersebut antara lain:
a.       Komplikasi Medik
Komplikasi medik biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama.Adapun pengaruh-pengaruh kompliksi medic antara lain sebagai berikut.
1)      Otak dan susunan saraf pusat :
N  gangguan daya ingat
N  gangguan perhatian / konsentrasi
N  gangguan bertindak rasional
N  gagguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi
N  gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja
N  gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik/ buruk.
2)      Pada saluran napas dapat terjadi radang paru (Bronchopnemonia). pembengkakan paru (Oedema Paru)
3)      Pada jantung dapat terjadi peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah jantung.
4)      Pada hati terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan seksual.
5)      Penyakit Menular Seksual (PMS) dan HIV/AIDS. Para pengguna narkotika dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan seksual demi mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual yang terjadi adalah: kencing nanah (GO), raja singa (Siphilis) dan lain-lain. Dan juga pengguna narkotika yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama membuat angka penularan HIV/AIDS semakin meningkat. Penyakit HIV/AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual, selain melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu ke janin.
6)      Sistem Reproduksi : sering terjadi kemandulan.
7)      Kulit : terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik, sehingga mereka sering menggunakan baju lengan panjang.

b.      Dampak Sosial
1)      Di Lingkungan Keluarga :
N  Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi pertengkaran, mudah tersinggung.
N  Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.
N  Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas) dan menjadi aib keluarga.
N  Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan keuangan.
N  Orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi.
2)      Di Lingkungan Sekolah :
N  Merusak disiplin dan motivasi belajar.
N  Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar.
N  Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara sesama teman sebaya.
3)      Di Lingkungan Masyarakat :
N  Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari pengguna / mangsanya.
N  Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang telah menjadi ketergantungan.
N  Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian, pembunuhan sehingga masyarkat menjadi resah.
N  Meningkatnya kecelakaan.
I.       Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika
Upaya pencegahan meliputi 3 hal, antara lain:
a.       Pencegahan primer
Mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan narkotika dan melakukan intervensi.Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi untuk menyalahgunakan narkotika, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan narkotika. Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan baik.
b.      Pencegahan Sekunder
Mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan narkotika.
c.       Pencegahan Tersier
Merehabilitasi penyalahgunaan narkotika.
Yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga untuk mencegah penyalahgunaan narkotika:
a.       Mengasuh anak dengan baik.
N penuh kasih saying
N penanaman disiplin yang baik
N ajarkan membedakan yang baik dan buruk
N mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
N mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.
b.      Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat. Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
c.       Meluangkan waktu untuk kebersamaan.
d.      Orang tua menjadi contoh yang baik. Orang tua yang merokok akan menjadi contoh yang tidak baik bagi anak.
e.       Kembangkan komunikasi yang baik. Komunikasi dua arah, bersikap terbuka dan jujur, mendengarkan dan menghormati pendapat anak.
f.       Memperkuat kehidupan beragama. Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.
g.      Orang tua memahami masalah penyalahgunaan narkotika agar dapat berdiskusi dengan anak
Yang dilakukan di lingkungan sekolah untuk pencegahan penyalahgunaan narkotika antara lain sebagai berikut.
a.       Upaya terhadap siswa :
N  Memberikan pendidikan kepada siswa tentang bahaya dan akibat penyalahgunaan narkotika.
N  Melibatkan siswa dalam perencanaan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkotika di sekolah.
N  Membentuk citra diri yang positif dan mengembangkan ketrampilan yang positif untuk tetap menghidari dari pemakaian narkotika dan merokok.
N  Menyediakan pilihan kegiatan yang bermakna bagi siswa (ekstrakurikuler).
N  Meningkatkan kegiatan bimbingan konseling. Membantu siswa yang telah menyalahgunakan narkotika untuk bisa menghentikannya.
N  Penerapan kehidupan beragama dalam kegiatan sehari – hari.
b.      Upaya untuk mencegah peredaran narkotika di sekolah :
N  Razia dengan cara sidak
N  Melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk lingkungan sekolah
N  Melarang siswa ke luar sekolah pada jam pelajaran tanpa ijin guru
N  Membina kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.
N  Meningkatkan pengawasan sejak anak itu datang sampai dengan pulang sekolah.
c.       Upaya untuk membina lingkungan sekolah :
N  Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina huibungan yang harmonis antara pendidik dan anak didik.
N  Mengupayakan kehadiran guru secara teratur di sekolah
N  Sikap keteladanan guru amat penting
N  Meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah.
Yang dilakukan di lingkungan masyarakat untuk mencegah penyalahguanaan narkotika:
a.       Menumbuhkan perasaan kebersamaan di daerah tempat tinggal, sehingga masalah yang terjadi di lingkungan dapat diselesaikan secara bersama- sama.
b.      Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyalahguanaan narkotika sehingga masyarakat dapat menyadarinya.
c.       Memberikan penyuluhan tentang hukum yang berkaitan dengan narkotika.
d.      Melibatkan semua unsur dalam masyarakat dalam melaksanakan pencegahan dan penanggulangan penyalahguanaan narkotika.



BAB III
METODE PENELITIAN
1.      Hasil Angket
Dalam penelitian ini, pengambilan data dilakukan dengan membagikan angket yang berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai variabel x dan y, kuesioner  yang telah diberikan  kepada responden selanjutnya  ditanggapi dengan memberikan tanda cheklist (√) guna memperoleh  data untuk kemudian dikelola oleh kami selaku peneliti.
Angket berisi  masing-masing 10 pertanyaan dengan 4 jenis pilihan tanggapan yang masing-masing memiliki  point berikut pilihan tanggapan :
Sangat Setuju (SS)                                       : 4 poin
Setuju (S)                                                     : 3poin
Tidak Setuju (TS)                                         : 2 poin
Sangat Tidak setuju (STS)                           : 1 poin
2.      Hasil Wawancara
Berdasarkan hasil wawancara secara langsung diperoleh  beberapa responden yang mengaku menggunakan narkotika. Sebagian dari mereka mengatakan menggunakan narkotika atas dasar coba-coba. Sebagian lagi karena faktor keluarga dan lingkungan pergaulan mereka. Mereka tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan dari narkotika yang mereka gunakan. Mereka mendapatkan narkotika dari teman mereka sendiri. Adapun jenis narkotika yang mereka gunakan adalah narkotika suntik, ekstasi dan ganja. Tujuan mereka menggunakan narkotika adalah untuk menenangkan diri dari masalah yang mereka alami di keluarga ataupun lingkungan sekitar. Sedangkan mereka mengalami kerugian materi dan kesehatan. Salah satu dari mereka sangat ingin berhenti menggunakan narkotika. Akan tetapi, mereka sulit untuk berhenti dan ingin terus menggunakan narkotika.



BAB IV
PEMBAHASAN

A.    PEMBAHASAN
Berdasarkan jawaban-jawaban para responden baik yang tertuang di dalam angket maupun wawancara, maka terjawablah permasalahan pada bab sebelumnya. Di mata para remaja, narkotika adalah zat yang berbahaya yntuk dikonsumsi dan disalahgunakan. Tetapi, mereka menganggap bahwa hanya narkotikalah yang bias memberikan ketenangan kepada mereka dikala mereka mempunyai masalah atau stress.
Mereka menggunakan narkotika atas dasar rasa ingin tahu yang tinggi dan faktor keluarga serta lingkungan pergaulan mereka. Mereka terkadang menggunakan narkotika karena adanya rasa solidaritas dan saling menghargai sesama teman yang salah. Selain itu, masalah-masalah dalam keluarga dan sekolah juga mempengaruh seorang remaja untuk menggunakan narkotika.
Adapun dampak yang dirasakan para remaja yang menggunakan narkotika adalah kesehatan yang terganggu, materi yang semakin terkuras habis, dan sekolah menjadi terbengkalai.

BAB V
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
1.      Kesadaran mereka akan bahaya narkotika masih kurang dan mereka salah mengartikan bahwa narkotika itu adalah jalan satu-satunya untuk mendapatkan pergaulan yang lebih layak dan mengatasi masalah.
2.      Dari hasil penelitian yang diperoleh, penyebab mereka memakai narkotika adalah sebagai berikut:
ï Rasa ingin tahu yang tinggi.
ï Adanya masalah dalam keluarga dan sekolah.
ï Lingkungan pergaulan.
ï Adanya rasa solidaritas sesama teman.
3.      Dampak yang dirasakan para remaja yang menggunakan narkotika adalah kesehatan yang terganggu, materi yang semakin terkuras habis, dan sekolah menjadi terbengkalai.

B.  SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka kami menyarankan:
1.      Agar lebih sering dilakukan penyuluhan-penyuluhan tentang narkotika dan pengaruh yang ditimbulkannya di kalangan para remaja khususnya yang duduk di bangku sekolah.
2.      Hendaknya aparat yang berwajib terkait masalah ini lebih giat lagi dalam memberantas narkotika.
3.      Hendaknya sekolah-sekolah lebih sering melakukan razia kepada para murid-muridnya agar para remaja tidak ada yang menyebarkan narkotika di sekolah-sekolah.
4.      Hendaknya para orang tua lebih mengenal dan mengawasi anak-anaknya agar tidak terjerumus narkotika.

DAFTAR PUSTAKA